Thursday, May 29, 2014

Belasan Pesawat Hibah Tempur Bakal Diterima TNI AU




TEMPO.COJakarta - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara menyambut tahun 2014 dengan semangat. Sebab, pada tahun ini, TNI AU bakal menerima belasan tenaga baru berupa beberapa jenis pesawat terbang. "Ada pesawat tempur jet, pesawat tempur baling-baling, dan pesawat angkut," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto saat dihubungi Tempo, Sabtu, 4 Januari 2014.

Dari jajaran pesawat tempur jet, ada F-16 blok 24 yang merupakan hibah dari Amerika Serikat. Sebelum Oktober 2014, TNI AU bakal menerima delapan dari 24 unit pesawat hibah itu. Nantinya, pesawat tempur jet ini harus menjalani perbaikan sistem avionik sebelum digunakan oleh Skadron 16, Pekanbaru, Riau.

Secara bertahap, TNI AU juga bakal menerima pesawat tempur bermesin jet T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Dari satu skuadron atau 16 unit pesawat yang dipesan, baru delapan unit yang akan dikirim. Rencananya, TNI AU akan melatih pilot tempur menggunakan pesawat ini, menggantikan pesawat Hawk 100/200.

Untuk pesawat tempur ringan atau bermesin piston atau baling-baling, akan datang pesawat Super Tucano buatan pabrik Embraer asal Brasil. Dari 16 unit yang dipesan, baru empat pesawat yang sudah tiba di Tanah Air. "Jumlah Super Tucano yang datang tahun ini saya tak hafal, setidaknya dua pesawat bakal hadir tahun ini." Pesawat ini menjadi tulang punggung TNI AU dalam melakukan misi antigerilya menggantikan pesawat OV-10 Bronco yang sudah dipensiunkan tahun lalu.

Selain itu, TNI AU juga bakal menerima satu pesawat jenis angkut C-130 Hercules dari Australia. Pesawat ini juga bakal menambah kekuatan armada angkut TNI AU. "Rencananya datang bulan Juli nanti."

Sesuai rencana, Angkatan Udara juga bakal menerima beberapa pesawat terbang tanpa awak dari Filipina tahun ini. Pesawat tanpa awak bakal menghuni skuadron khusussurveillance di Pontianak, Kalimantan Barat. "Saya belum dengar pasti kapan datangnya, tapi sesuai rencana strategis tahun ini," kata Hadi. "Diharapkan pesawat-pesawat ini mampu mendongkrak MEF (minimum essential forces) dari tahun 2013 yang sebesar 28,7 pers

Aneka Pesawat yang Bakal Dimiliki TNI Tahun Ini




TEMPO.COJakarta - Panglima TNI Jenderal Moeldoko gembira dengan beberapa alat utama sistem persenjataan baru yang bakal diterima tahun ini. Salah satu yang dia tunggu adalah helikopter serbu Apache dari Amerika Serikat.

"Dulu kami tak menyangka bisa membeli helikopter sekelas Apache," kata Moeldoko kepada wartawan di lapangan Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 6 Januari 2014.

Moeldoko tak sabar menunggu kedatangan helikopter serbu tersebut. Meski bekas, helikopter canggih tersebut terlebih dahulu menjalani proses upgrade sebelum dikirim ke Indonesia. 

"Mudah-mudahan kami bisa datangkan dua unit Apache sebelum HUT TNI 5 Oktober 2014, jadi bisa kami pamerkan nanti," kata dia.

Selain helikopter Apache, TNI bakal menerima belasan pesawat baru dan bekas berbagai jenis di tahun ini. "Ada pesawat tempur jet, pesawat tempur baling-baling, dan pesawat angkut," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto saat dihubungi, Sabtu, 4 Januari 2014.

Dari jajaran pesawat tempur jet adalah F-16 blok 24 hibah dari Amerika Serikat. Menurut Hadi, Angkatan Udara bakal menerima delapan dari 24 unit pesawat hibah sebelum bulan Oktober 2014. Sesuai rencana pesawat F-16 bakal menghuni Skuadron 16, Pekanbaru, Riau.

Selain itu, Angkatan Udara bakal menerima secara bertahap pesawat tempur bermesin jet T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Dari satu skuadron atau 16 unit pesawat yang dipesan, baru delapan unit yang diterima Indonesia. Pesawat inilah yang bakal digunakan untuk melatih pilot-pilot tempur TNI AU menggantikan pesawat Hawk 100/200.

TNI Kebut Persiapan Skadron Pesawat tanpa Awak




TEMPO.COJakarta - Panglima Komando Operasi Angkatan Udara Satu Marsekal Muda Muhammad Syaugi mengaku tidak sabar untuk segera memiliki skadron khusus pesawat tanpa awak yang rencananya berlokasi di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Karena itu, Angkatan Udara saat ini sedang mempercepat persiapan infrastruktur pendukung skadron tersebut.

"Targetnya tahun ini jadi," kata Syaugi kepada wartawan di Markas Komando Operasi Angkatan Udara Satu, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat, 24 Januari 2014.

Selain infrastruktur, TNI AU juga mempersiapkan sisi teknologinya. Para teknisi TNI AU sudah mulai mempelajari teknologi dan seluk-beluk pesawat tanpa awak. "Ternyata tak mudah, kami pun mempelajari (teknologi) tersebut dari negara tetangga yang sudah bisa," kata dia. "Tak perlu malu, yang penting kami belajar."

Saat disinggung soal pesawat tanpa awak jenis apa yang bakal digunakan TNI AU, Syaugi belum mau menjawab detail. Dia hanya menyebutkan pesawat tanpa awak hasil riset dari Kementerian Riset dan Teknologi serta Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi, yakni PUNA Wulung. "Selain itu, Kementerian Pertahanan yang tahu," ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan membeli belasan unit pesawat tanpa awak dari Filipina, selain buatan dalam negeri, yang akan dialokasikan untuk TNI Angkatan Udara. Skadron pesawat nirawak ini diharapkan mampu mengemban misi mata-mata dan pengamatan jarak jauh. Pesawat ini ditargetkan mampu memberikan gambaran awal suatu daerah di Tanah Air setelah terjadinya bencana alam.

Junta Militer Thailand Butuh Situasi Kondusif Jelang Pemilu


REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Militer Thailand pada Kamis (29/5), menyampaikan harapannya atas kondisi keamanan Thailand saat ini. Dikutip dari Reuters, Kamis, militer mengatakan, situasi dan kondisi gejolak politik yang kondusif sangat diperlukan sebelum pemungutan suara Thailand dilakukan.
 
Militer pun menyatakan, kondisi Thailand saat ini harus terpulihkan seutuhnya sebelum dikembalikan kepada pemerintahan sipil.

''Ini adalah niat dewan untuk menciptakan kondisi yang tepat untuk menempatkan Thailand menuju pemilu yang bebas dan adil,'' kata Wakil Kepala Staf AD, Letnan Jenderal Chatchalerm Chalermsukh, kepada wartawan.
 
Sebelumnya, Thailand di bawah kepemimpinan Kepala Militer, Jenderal Prayuth Chan-ocha, telah menggulingkan PM Yingluck Shinawatra. Seusainya, massa Thailand pun membentuk kubu yang masing-masing saling berpihak kepada PM Yingluck dan berdiri sebagai perlawanannya.

Junta Militer Bebaskan Mantan Pejabat Sementara PM Thailand




REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan pejabat sementara Perdana Menteri Thailand Niwattumrong Boonsongpaisan, bersama dengan 32 tokoh politik terkemuka lainnya, Kamis dibebaskan setelah ditahan selama tiga sampai tujuh hari.

Pribadi-pribadi itu termasuk mantan anggota parlemen dari Partai Pheu Thai dan Partai Demokrat serta para mantan menteri kabinet, dibebaskan dengan syarat mereka tidak mengambil bagian dalam kegiatan politik untuk saat ini.

Mereka diambil dari berbagai kamp militer tak dikenal di provinsi-provinsi ke Klub Angkatan Darat di ibu kota Bangkok Kamis sore, menurut laporan Bangkok Post, Kamis.

Panglima Angkatan Bersenjata Thailand, Jenderal Prayuth Chan-ocha, yang kemudian disahkan sebagai kepala Dewan Nasional untuk Ketentraman dan Ketertiban (NCPO), menyatakan kudeta Kamis lalu, dan melakukan pemanggilan para tokoh, termasuk para politisi, akademisi, serta pengusaha.

Junta militer Thailand Rabu juga membebaskan beberapa pemimpin Front Persatuan untuk Demokrasi melawan Kediktatoran (UDD), atau "Baju Merah," yang telah ditahan selama tujuh hari.

Sementara mantan perdana menteri Yingluck Shinawatra dikonfirmasi tidak berada di bawah tahanan rumah di Bangkok.

Dewan Nasional Ketentraman dan Ketertiban (NCPO) membebaskan Ketua UDD Jatuporn Prompan, Nuttawut Saikuar, Pracha Promnog, Virakarn Musigapong Weng Tojirakarn dan Thida Tavonseth.

Sementara itu, mantan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra yang dikonfirmasi tinggal di Bangkok dan tidak berada di bawah tahanan rumah, kata Bangkok Post Rabu mengutip sumber yang dapat dipercaya di NCPO.

Yingluck diperbolehkan untuk bepergian dengan bebas di negara ini, tetapi tidak meninggalkan Thailand, dan harus menginformasikan NCPO jika pergi ke luar Bangkok, kata sumber itu.

Yingluck dijebloskan dalam tahanan militer selama satu malam di Divisi 1, setelah melapor ke NCPO Jumat lalu berdasarkan permintaan junta militer.

Israel Tangkap 4 Anak Perempuan Palestina



REPUBLIKA.CO.ID, HEBRON -- Israel menahan empat orang gadis Palestina tanpa orangtua mereka. Penahanan tersebut dilakukan hanya karena adanya aduan dari salah satu pemukim Yahudi, seperti yang dilansir Mi’raj News Agency (28/5).
Pemukim Yahudi tersebut mengatakan,  para gadis tersebut memakan buah ceri dari salah satu pohon ceri milik seorang pemukim Yahudi Maon di bukit Hebron. Tentara menahan mereka pada Selasa (27/5) dan ditahan di kantor polisi Kiryar Arba. Para gadis yang ditahan oleh tentara Israel masih berusia di bawah umur sekitar 11 sampai 15 tahun.
Salah satu pemukim Yahudi Maon, B’Tselem berkata, seorang pemukim dari maon mengatakan kepada para tentara Israel yang mengawal gadis Palestina, bahwa anak-anak itu memakan beberapa ceri dari daerah pemukiman. Setelah aduan dari pemukim itu, para tentara langsung menghubungi polisi Israel dan membawa mereka ke kantor Polisi untuk di interograsi tanpa adanya orang tua mereka.
Setiap harinya, para tentara Israel mengawal para gadis Palestina yang tingga di Khirbet Tuba, perbukitan selatan saat perjalanan pergi dan pulang dari sekolah. Hal itu dilakukan guna menghindari pelecehan verbal para pemukin yang sering dilakukan terhadap anak-anak Palestina ketika para gadis berangkat dan pulang dari sekolah.
Atty gaby Lasky, pengacara yang mewakili para gadis menghubungi polisi Israel dan mengatakan, beberapa anak dibebaskan setelah orang mereka menghubungi polisi Israel tersebut. Sedangkan, dua orang lainnya masih ditahan untuk ditanyai.
“Saya memiliki kasus pembunuhan dan mereka tidak mempertanyakan tersangka selama lebih dari satu tahun. Namun, gadis-gadis tersebut segera diinterogasi tanpa kehadiran orang tua mereka,” lanjutnya.
Ia berkata, jika hal tersebut terjadi pada gadis-gadis Yahudi maka akan terjadi sebuah pelanggaran karena menginterogasi tanpa kehadiran orangtua mereka.

Yonif 742 Segera ke Perbatasan Timor Leste




REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Komandan Korem (Danrem) 162 Wira Bhakti Kolonel Arh Kuat Budiman mengatakan, prajurit TNI dari Batalyon Infanteri (Yonif) 742/Satya Wira Yudha (SWY) segera diberangkatkan ke perbatasan negara Republik Indonesia (RI) dengan Timor Leste, di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTB), untuk tugas pengamanan kedaulatan negara.

"Rencananya 28 Maret nanti digelar upacara pemberangkatannya," kata Komandan Korem (Danrem) 162 Wira Bhakti Kolonel Arh Kuat Budiman, di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin.

Ia mengatakan, prajurit TNI yang akan diberangkatkan ke perbatasan RI-Timor Leste itu sebanyak 650 orang, yakni satu batalyon pasukan Yonif 742/SWY ditambah personil perkuatan.

Prajurit TNI yang berjumlah 650 orang itu akan menggantikan posisi Yonif 743/SYB di perbatasan RI-Timor Leste, selama satu tahun.

Yonif 742/SWY merupakan satuan tempur di jajaran Kodam IX/Udayana, yang bertugas membantu pemerintah daerah di wilayah NTB dalam menegakkan stabilitas keamanan wilayah.

Namun, sebagian besar prajurit Yonif 742/SWY itu sudah pernah bertugas di kawasan perbatasan RI-Timor Leste yakni sejak 18 Nopember 2006 hingga 2 Nopember 2007, dan pertengahan Oktober 2009 hingga pertengahan Oktober 2010.

Kini, akan bertugas lagi selama setahun di kawasan perbatasan RI-Timor Leste hingga akhir Maret 2015.

"Sebelum diberangkatkan ke medan tugas, tentu dilakukan pembekalan dan pelatihan khusus agar dapat menjalankan tugas sebaik-baiknya," ujarnya.

Hari ini (Senin, 24/3), Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko sempat meninjau kesiapan prajurit TNI yang hendak diberangkatkan ke kawasan perbatasan itu, di Markas Yonif 742/SWY di Gebang, Kota Mataram.

Pimpinan tertinggi di jajaran TNI itu sempat melakukan pengecekan kesiapan prajurit dan peralatan yang akan dibawa ke perbatasan negara.

Pengecekan kesiapan prajurit menggunakan peralatan tempur juga dilakukan, sekaligus mencoba daya ingat para komandan regu dan komandan kompi dalam melaksanakan tugas khusus kemiliteran.

Salah satu persoalan di kawasan perbatasan RI-Timor Leste yang patut diwaspadai yakni, pelintas batas ilegal dan penyelundupan baik yang dilakukan secara perorangan maupun terorganisir.

Karena itu, prajurit TNI Yonif 742/SWY yang akan menempati garis perbatasan diwajibkan mencegah pelintas batas ilegal dan aksi penyelundupan itu sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku.